Selamat Datang di Blog RICO FERDIANSYAH : Inspirasi Hidup Sehat
DEFISIENSI ZAT BESI; Fakta, Gejala, Bahaya, dan Solusinya

DEFISIENSI ZAT BESI; Fakta, Gejala, Bahaya, dan Solusinya

Mengenal Zat Besi

Zat besi adalah suatu zat dalam tubuh manusia yang erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Dalam tubuh manusia, zat besi memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut electron di dalam proses pembentukan energi di dalam sel. Untuk mengangkut oksigen, zat besi harus bergabung dengan protein membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah dan myoglobin di dalam serabut otot. Bila bergabung dengan protein di dalam sel, zat besi membentuk enzim yang berperan di dalam pembentukan energi di dalam sel.
 

Kebutuhan Harian Zat Besi

Kebutuhan harian zat besi berbeda-beda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Pada bayi berusia 0-1 tahun, kebutuhan harian zat besi adalah 7-8 mg dan terus meningkat sebanyak 1 mg setiap 3 tahun hingga berumur 9 tahun. Setelah berumur 9 tahun, kebutuhan zat besi pada pria dan wanita akan berbeda. Kebutuhan tertinggi adalah pada usia 13-15 tahun, yaitu 19mg pada pria dan di usia 13-49 tahun pada wanita, yaitu sebanyak 26 mg.

Secara umum terdapat dua jenis makanan kaya zat besi:
  1. Heme: zat besi dalam makanan hewani seperti ikan, unggas, dan daging merah. Jenis zat besi ini sangat mudah diserap tubuh.
  2. Nonheme: zat besi dari tanaman.
 

Fakta Kasus Defisiensi Zat Besi

  • Kekurangan zat besi adalah salah satu kekurangan nutrisi yang paling umum di dunia, mempengaruhi lebih dari 25% orang di seluruh dunia. Jumlah ini naik menjadi 47% pada anak-anak prasekolah. 
  • Sekitar 30% dari wanita yang sedang menstruasi mungkin juga kekurangan karena kehilangan darah bulanan, dan hingga 42% dari wanita hamil muda mungkin juga kurang.
  • Selain itu, vegetarian dan vegan memiliki risiko defisiensi yang meningkat karena mereka hanya mengonsumsi zat besi non-heme, yang tidak diserap serta zat besi heme. 
Siapakah yang paling berisiko atau rentan kekurangan zat besi?
  • Anak-anak dan wanita hamil berada pada risiko tinggi kekurangan zat besi karena pertumbuhan yang pesat sedangkan kebutuhan zat besi yang lebih tinggi.
  • Bayi berat lahir rendah dan bayi prematur.
  • Gadis remaja dan wanita usia subur juga beresiko karena menstruasi.
  • Anak-anak yang memiliki kebutuhan kesehatan khusus, misalnya, anak-anak dengan infeksi kronis atau diet dibatasi.
  • Kondisi medis tertentu seperti perdarahan dalam jumlah besar, gangguan pembekuan darah, luka bakar, pasien dengan cuci darah rutin, pasien dengan gangguan pencernaan, pasien paska operasi saluran cerna.
 

Gejala Defisiensi Zat Besi

Gejala kekurangan zat besi berbeda-beda pada setiap orang. Hal ini tergantung usia, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan. Beberapa gejala kekurangan zat besi yang paling umum di antaranya:

  • Sering merasa lesu, mudah lelah, dan sulit fokus.
  • Muka pucat.
  • Sakit kepala dan pusing.
  • Jantung berdebar-debar
  • Rambut rontok.
  • Lidah dan mulut bengka.
  • Sindrom kaki gelisah.
  • Kuku berbentuk seperti sendok.
 
 

Bahaya Defisiensi Zat Besi

Konsekuensi paling umum dari kekurangan zat besi adalah anemia, yakni jumlah sel darah merah Anda dan kemampuan darah Anda untuk membawa oksigen turun. Berikut ini adalah akibat kekurangan zat besi:.
  • Kekurangan zat besi menghambat fungsi motorik normal pada bayi (aktivitas dan gerak tubuh) dan fungsi kecerdasan.
  • Anemia karena kekurangan zat besi (Iron deficiency anemia) selama kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi premature dan berat lahir rendah (BBLR).
  • Pada orang dewasa kekurangan zat besi membuat cepat lelah menurunkan tenaga dan produktifitas kerja.
  • Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat menurunkan daya ingat (memory), fungsi mental dan kecerdasan.
  • Kekurangan zat besi dapat meningkatkan risiko infeksi
 

Solusi Atasi Defisiensi Zat Besi


Penuhi kebutuhan zat besi dengan mengonsumsi makanan sehat yang mengandung zat besi, seperti daging merah, ikan, ayam, bayam, kale, kacang-kacangan, telur, dan susu. Selain itu, konsumsi vitamin C akan mempermudah tubuh menyerap zat besi. Faktanya, sebuah penelitian melaporkan bahwa konsumsi vitamin C dalam jumlah kecil akan meningkatkan kemampuan tubuh menyerap zat besi  hingga tiga kali lipat. Sumber vitamin C yang bisa dikonsumsi, seperti kembang kol, brokoli, tomat, dan jus lemon. Namun, untuk konsumsi suplemen zat besi, sebaiknya konsultasikan dulu kebutuhan zat besi Anda pada dokter.  Pasalnya, pada sebagian orang, konsumsi suplemen zat besi menyebabkan konstipasi. Konsumsi makanan alami untuk meningkatkan kadar zat besi tampaknya akan lebih sehat bagi tubuh Anda.

Sumber makanan zat besi heme
  • Daging merah. 3 ons (85 gram) daging sapi menghasilkan hampir 30% dari kebutuhan harian.
  • Daging hati. Satu irisan (81 gram) hati memberikan lebih dari 50%.
  • Kerang, remis, dan tiram adalah sumber zat besi heme yang sangat baik, dengan 3 ons (85 gram) tiram yang sudah dimasak menghasilkan sekitar 50%.
  • Ikan sarden kalengan. 106 gram dapat memenuhi 34% dari kebutuhan harian.

Sumber makanan terbaik zat besi non-heme 
  • Kacang polong. Setengah cangkir (85 gram) kacang merah yang dimasak menghasilkan 33% dari kebutuhan harian.
  • Biji labu, wijen, dan labu adalah sumber zat besi non-heme yang baik. Satu ons (28 gram) labu panggang atau biji labu mengandung 11% dari kebutuhan harian.
  • Sayuran hijau gelap seperti brokoli, kangkung, dan bayam kaya akan zat besi. Satu ons (28 gram) kale segar memberikan 5,5% dari kebutuhan harian.
 

Suplemen Pencegahan Defisiensi Zat Besi

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, asupan gizi seimbang sangat penting untuk kesehatan Anda. Selain beberapa rekomendasi yang sudah dipaparkan sebelumnya, Anda juga dapat menambahkan suplemen untuk menjaga kondisi darah Anda tetap sehat dan mencegah terjadinya defisiensi zat besi. Yakni dengan cara rutin konsumsi Chlorophyll Plus dan Spirulina.
 
Referensi: HealthLine.com, AloDokter.com, HonestDocs.id










Selamat Datang di Blog RICO FERDIANSYAH : Inspirasi Hidup Sehat Lainnya
Perut Buncit No
Perut Buncit No
Selasa, 22 Maret 2016 15:55 WIB
Banyak yang beranggapan orang dengan perut buncit identik dengan orang kaya. Nah loh...Ini sudah tidak jamannyalagi. Orang yang kaya
Langsing dengan Detox
Langsing dengan Detox
Jum'at, 18 Maret 2016 15:25 WIB
Program detox bukan hanya langsing atau turun berat badan yang akan anda dapatkan. Tetapi juga kesehatan yang optimal, bugar, kulit cerah & berseri, nampak awet muda, vitalitas meningkat, terhindar dari risiko penyakit berat/kronis seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi, kanker dll.
Sudah Capek-Capek Olahraga Tetap Saja gendut
Sudah Capek-Capek Olahraga Tetap Saja gendut
Selasa, 22 Maret 2016 16:52 WIB
Merasa sudah rutin berolahraga bukan berarti Anda boleh makan sembarangan setelahnya, karena dapat membuat Anda gendut kembali. Tetap jaga pola makan supaya waktu dan tenaga yang Anda gunakan untuk berolahraga tidak jadi sia-sia.
Gejala Penyakit Jantung Yang Selalu Muncul
Gejala Penyakit Jantung Yang Selalu Muncul
Senin, 14 Maret 2016 16:41 WIB
Penyakit jantung yaitu satu diantara penyebabnya kematian nomer satu di Indonesia. Gejala Penyakit Jantung Yang Selalu Muncul Satu Bulan Sebelum Serangan Terjadi...
Rekomendasi Produk
Anemia
Paket kesehatan untuk anemia defisiensi besi disarankan mengkonsumsi spirulina dan liquid chlorophyll.

Rp 633.100
Rp 633.100




Perlu Bantuan?

Hai, Saya RICO FERDIANSYAH Anda memerlukan bantuan saat belanja produk? atau andamembutuhkan informasi lebih lengkap tentang produk-produk kami silahakan hubungi saya melalui Handphone 081372502250 atau di WhatsApp 081372502250 :

Kirim Pesan  Chat WhatsApp